Alat persiapan seleksi
Kalkulator tes kesamaptaan jasmani
Masukkan hasil lari 12 menit dan keempat butir samapta B, lalu nilai tiap butir, nilai Samapta A, nilai Samapta B, dan nilai akhirnya langsung keluar berdasarkan tabel penilaian garjas menurut golongan umur. Gratis, tanpa daftar, dan catatan yang Anda ketik tidak keluar dari perangkat ini.
Angka di atas adalah nilai menurut tabel penilaian garjas. Ambang batas kelulusannya bukan angka tetap: tiap matra (TNI AD, AL, AU, Polri), tiap jenis seleksi, dan tiap gelombang bisa memakai nilai batas lulus yang berbeda, dan sebagian panitia juga memakai pembobotan nilai akhir yang berbeda. Pakai kalkulator ini untuk mengukur kemajuan latihan, lalu pastikan ambangnya ke pengumuman resmi penerimaan yang sedang Anda ikuti.
Butir mana yang paling cepat naik berbeda-beda tiap orang — coach menyusunnya jadi program mingguan sampai hari tes.
Apa itu tes kesamaptaan jasmani
Tes kesamaptaan jasmani adalah tahap yang mengukur kesiapan fisik calon prajurit TNI dan calon anggota Polri. Bentuknya sederhana dan sudah baku sejak lama: satu tes daya tahan yang disebut Samapta A, dan empat tes kekuatan serta kelincahan yang disebut Samapta B. Samapta A adalah lari 12 menit — berlari sejauh mungkin selama dua belas menit, lalu jaraknya diukur dalam meter. Samapta B terdiri dari pull up untuk pria atau chinning untuk wanita, sit up, push up, masing-masing satu menit, dan ditutup shuttle run 6 x 10 meter yang diambil waktunya.
Yang membuat tes ini terasa berat bukan gerakannya, tapi cara menilainya. Setiap catatan tidak dinilai lulus atau tidak lulus, melainkan diubah jadi angka 0 sampai 100 lewat tabel. Jarak 2.937 meter tidak berarti apa-apa sendirian; setelah lewat tabel, jarak itu jadi nilai 70 untuk peserta golongan umur I. Karena semuanya berujung pada satu angka, latihan Anda bisa diarahkan dengan tepat: Anda tahu persis berapa meter lagi yang harus ditambah untuk naik satu nilai, dan butir mana yang paling murah dinaikkan.
Tabel yang dipakai halaman ini adalah tabel penilaian garjas "A" dan "B" yang diterbitkan Dinas Jasmani TNI AD dan dipakai kalkulator resmi Departemen Jasmani Akademi Militer. Tidak ada satu pun angka di sini yang hasil kira-kira atau interpolasi; semuanya disalin baris per baris. Yang tidak bisa dijanjikan halaman mana pun adalah ambang kelulusannya — bagian itu berbeda tiap penerimaan, dan dibahas di bawah.
Golongan umur menentukan tabel yang dibaca
Tabel penilaian dibagi ke sepuluh golongan umur, mulai golongan I untuk 18–25 tahun sampai golongan X untuk 56–58 tahun. Yang perlu dipahami: golongan umur tidak mengubah tangga prestasinya, hanya menggeser nilainya. Baris jaraknya sama persis untuk semua golongan; yang bergeser adalah nilai yang menempel di baris itu, tepat lima angka tiap naik satu golongan.
Contohnya lari 3.412 meter. Untuk peserta golongan I angka itu bernilai 95. Untuk peserta golongan II, jarak yang sama persis bernilai 100. Bukan karena tesnya diperingan, tapi karena tabelnya menempatkan orang pada sebaran umurnya sendiri. Buat calon peserta seleksi masuk, ini hampir selalu berarti golongan I — batas umur pendaftaran memang ada di rentang itu. Golongan III ke atas lebih banyak dipakai untuk tes garjas berkala prajurit dan anggota yang sudah berdinas.
Samapta A: lari 12 menit
Lari 12 menit adalah tes Cooper, yang di seleksi TNI dan Polri biasanya digelar di lintasan atau lapangan sepak bola supaya jaraknya gampang dihitung dari jumlah putaran. Untuk pria golongan I, nilai 100 didapat pada 3.507 meter, dan tangganya turun tetap 19 meter per satu nilai sampai nilai 0 di 1.607 meter. Untuk wanita golongan I, nilai 100 ada di 2.630 meter, dengan langkah 11 meter per nilai di bagian atas tabel yang melebar jadi 13–15 meter di bagian bawah.
Angka 19 meter itu penting untuk cara Anda melatihnya. Selisih satu nilai kira-kira setara dengan setengah panjang lapangan sepak bola. Artinya menambah 100 meter saja sudah menaikkan lima nilai, dan karena nilai akhir memberi Samapta A separuh bobot, lima nilai di lari langsung menambah 2,5 pada nilai akhir Anda. Buat peserta yang nilainya mepet, jarak lari hampir selalu tempat paling menguntungkan untuk digarap.
Kalau Anda ingin membaca hasil lari 12 menit dari sisi lain, jarak yang sama juga bisa diterjemahkan jadi perkiraan VO₂ max, yaitu ukuran kapasitas aerobik yang dipakai di dunia olahraga secara umum. Itu berguna untuk membandingkan kemajuan Anda di luar konteks seleksi.
Samapta B: empat butir, satu rata-rata
Keempat butir Samapta B dinilai terpisah, lalu nilainya dirata-ratakan begitu saja. Tidak ada butir yang lebih berat dari yang lain, dan justru di situ letak taktiknya: satu butir yang jeblok menyeret rata-ratanya dengan bobot yang sama seperti butir yang sudah bagus.
Pull up untuk pria adalah butir dengan tangga paling curam: tabelnya bergerak lima nilai untuk setiap satu repetisi, dari 18 kali yang bernilai 100 sampai satu kali yang bernilai 15. Satu repetisi tambahan berarti lima nilai — tidak ada butir lain yang sedermawan itu. Chinning untuk wanita adalah gerakan yang berbeda dan hitungannya jauh lebih tinggi, dengan nilai 100 pada 63 kali, sehingga tangganya jauh lebih rapat dan satu repetisi tidak sebesar itu pengaruhnya.
Sit up dan push up sama-sama satu menit. Untuk pria, nilai 100 didapat pada 41 sit up dan 43 push up, dan tabelnya juga bergerak lima nilai per repetisi di bagian atas. Untuk wanita, sit up bernilai 100 pada 36 kali, sedangkan push up memakai bentuk modifikasi dengan tumpuan lutut, bernilai 100 pada 28 kali. Karena gerakannya berbeda, angka pria dan wanita memang tidak bisa dibandingkan langsung.
Shuttle run 6 x 10 meter satu-satunya butir yang dinilai terbalik: makin cepat makin tinggi nilainya. Pria golongan I mendapat 100 pada 15,9 detik, wanita pada 17,2 detik, dan tabelnya bergerak satu nilai tiap 0,1 detik. Perhatikan konsekuensinya — memangkas satu detik saja menaikkan sepuluh nilai. Ini butir yang paling sering diremehkan padahal paling responsif terhadap teknik.
Cara nilai akhirnya dihitung
Perhitungannya tiga langkah. Pertama, tiap butir diubah jadi nilai 0–100 lewat tabel golongan umur Anda. Kedua, nilai Samapta B adalah rata-rata keempat butir B: (B1 + B2 + B3 + B4) dibagi 4. Ketiga, nilai akhirnya adalah rata-rata nilai Samapta A dan nilai Samapta B, yaitu (A + B) dibagi 2 — cara yang dipakai kalkulator nilai garjas resmi Akademi Militer.
Perhatikan bahwa langkah ketiga bukan rata-rata kelima butir. Lari 12 menit sendirian memegang separuh nilai akhir, sedangkan keempat butir Samapta B berbagi separuh sisanya, jadi masing-masing hanya seperdelapan. Ini sering disalahpahami. Seorang peserta yang menambah lima nilai di pull up hanya menaikkan nilai akhirnya sebesar 0,63; menambah lima nilai di lari 12 menit menaikkannya 2,5 — empat kali lipat. Kalau waktu Anda tinggal sedikit, sudah jelas ke mana harus diarahkan.
Sebagian panitia seleksi memakai pembobotan yang berbeda untuk menggabungkan Samapta A dan B, dan sebagian penerimaan juga menambahkan butir lain seperti renang atau pemeriksaan antropometri yang tidak dihitung di halaman ini. Rumus di atas adalah yang paling umum dipakai, bukan satu-satunya.
Soal ambang kelulusan
Ini bagian yang harus jujur: tidak ada satu angka kelulusan yang berlaku untuk semua orang. Nilai batas lulus berbeda antara TNI AD, AL, AU, dan Polri; berbeda antara Akmil, Akpol, Bintara, Tamtama, dan jalur perwira karier; dan berbeda antar gelombang dalam tahun yang sama. Sebagian penerimaan juga memakai sistem peringkat, di mana yang menentukan bukan ambang tetap melainkan posisi Anda terhadap peserta lain di panitia daerah yang sama.
Karena itu halaman ini sengaja tidak menampilkan tulisan "lulus" atau "tidak lulus". Angka yang keluar adalah nilai Anda menurut tabel penilaian garjas, dan itu memang informasi yang paling berguna untuk latihan. Untuk ambangnya, bacalah pengumuman resmi penerimaan yang sedang Anda ikuti, dan tanyakan langsung ke panitia daerah kalau ada yang tidak jelas. Jangan memakai angka dari gelombang tahun lalu atau dari matra lain sebagai patokan.
Cara menaikkan nilai
Mulailah dari shuttle run, karena itu butir yang paling cepat berubah dan paling sedikit dilatih orang. Waktu Anda di 6 x 10 meter lebih banyak ditentukan oleh berapa lama Anda berhenti dan berbalik daripada oleh seberapa cepat Anda berlari lurus. Turunkan titik berat badan sebelum garis, injak dengan kaki luar, pendekkan langkah dua langkah terakhir sebelum berbalik, dan jangan berdiri tegak saat memutar. Latihan sepuluh sampai lima belas kali percobaan dengan istirahat penuh, dua kali seminggu, biasanya sudah memangkas satu sampai dua detik dalam beberapa pekan — dan itu sepuluh sampai dua puluh nilai.
Untuk lari 12 menit, latihan yang paling banyak memberi hasil bukan lari santai jarak jauh, melainkan interval di kecepatan sekitar kecepatan tes Anda: misalnya enam sampai delapan kali 400 meter dengan istirahat jalan satu sampai dua menit, satu kali seminggu, ditambah satu sesi lari mudah yang lebih panjang. Sama pentingnya: latih pembagian tenaganya. Banyak peserta kehilangan seratus meter lebih bukan karena kurang mampu, tapi karena tiga menit pertama terlalu ngebut lalu jalan di menit kesembilan. Coba lari 12 menit lengkap sekali setiap dua atau tiga pekan, dan catat jaraknya di sini supaya kemajuannya kelihatan.
Pull up adalah butir yang paling lambat naik dan paling menguntungkan kalau naik. Kalau sekarang Anda di bawah lima repetisi, latihan yang berhasil bukan mencoba pull up sebanyak mungkin sampai gagal, melainkan banyak set pendek jauh di bawah batas — misalnya lima set tiga repetisi, tiga sampai empat kali seminggu — ditambah gerakan turun pelan (menahan badan turun selama lima detik) dan pull up dengan bantuan karet. Sit up dan push up lebih cepat responsnya; yang menentukan biasanya bukan kekuatan mentah, tapi tempo. Berlatihlah dengan hitungan waktu sungguhan satu menit, bukan sampai capek, supaya Anda tahu ritme mana yang bisa Anda tahan sampai detik keenam puluh.
Satu peringatan soal pengaturan pekan latihan: jangan menaruh sesi interval lari dan sesi kekuatan berat di hari yang sama, apalagi menjelang tes. Kedua-duanya menarik dari sumber pemulihan yang sama, dan hasil yang sering terjadi adalah kedua butir sama-sama stagnan. Beri jarak minimal satu hari, dan kurangi beban latihan selama sepekan terakhir sebelum hari tes — datang dalam keadaan segar bisa menambah beberapa nilai tanpa latihan tambahan apa pun.
Kesalahan yang sering terjadi saat mengukur sendiri
Yang paling sering: menghitung repetisi yang tidak sah. Pada tes yang sebenarnya, pull up baru dihitung kalau dagu melewati palang dan lengan kembali lurus penuh; sit up dihitung kalau siku menyentuh paha dan punggung kembali menyentuh alas; push up dihitung kalau dada turun sampai kepalan penilai dan siku kembali lurus. Kalau latihan Anda memakai standar yang lebih longgar, angka di kalkulator ini akan terlihat bagus dan hasil di lapangan akan mengecewakan. Ukur dengan standar yang paling ketat.
Kesalahan kedua: mengukur lari 12 menit di lintasan yang tidak jelas panjangnya. Perkiraan jarak dari aplikasi ponsel bisa meleset seratus meter atau lebih, dan seratus meter di sini berarti lima nilai. Pakailah lintasan atletik atau lapangan yang sudah Anda ukur, dan hitung putarannya. Ketiga: mengukur shuttle run tanpa memperhatikan bentuk lintasan. Pada tes yang lazim, shuttle run 6 x 10 meter dilakukan bolak-balik membentuk angka delapan di antara dua tiang berjarak sepuluh meter sebanyak tiga putaran — bukan lari lurus bolak-balik enam kali. Bentuk lintasannya mengubah waktunya secara berarti, jadi pastikan Anda melatih bentuk yang benar.
Terakhir, jangan mengukur kelima butir dalam satu sesi latihan pertama dan menyimpulkan sesuatu dari situ. Pada tes yang sebenarnya, Samapta A dan Samapta B dipisah jeda istirahat, dan urutan pelaksanaannya memengaruhi hasil. Tes mandiri paling berguna kalau dilakukan dengan urutan dan jeda yang sama setiap kali, supaya perbandingan antarwaktunya bermakna.
Catatan sumber
Tabel Samapta A dan sebagian besar tabel Samapta B pada halaman ini disalin dari tabel penilaian garjas "A" dan "B" Dinas Jasmani TNI AD (Keputusan Kadisjasad Nomor Kep/21-42/IV/2020) dan dari kalkulator nilai garjas Departemen Jasmani Akademi Militer, yang memakai bentuk empat butir Samapta B dengan shuttle run 6 x 10 meter. Kedua sumber itu cocok untuk lari 12 menit, pull up, chinning, sit up pria, dan push up. Untuk sit up wanita dan shuttle run, angkanya diambil dari kalkulator Akademi Militer karena butirnya memang berbeda dari lampiran 2020.
Halaman ini bukan terbitan resmi TNI maupun Polri dan tidak berafiliasi dengan keduanya. Kalau angka pada pengumuman resmi penerimaan yang Anda ikuti berbeda dengan yang keluar di sini, yang berlaku adalah pengumuman resminya.