Latihan Beban Pagi vs Sore: Kekuatan dan Pertumbuhan Otot
Kekuatan dan daya ledak otot dasar mencapai puncaknya pada sore hari seiring dengan suhu inti tubuh dan efisiensi kontraktil perifer, sementara metrik kecepatan tertinggal di pagi hari. Namun, latihan beban pagi hari secara kronis dapat meredam penurunan performa diurnal ini, dan adaptasi hipertrofi serta kekuatan jangka panjang secara keseluruhan tetap setara tanpa memandang waktu latihan jika volume dan frekuensi disamakan.
Terakhir diperbarui: 2026-09-12
Variasi Diurnal pada Output Kekuatan dan Daya Ledak Akut
Performa neuromuskular berfluktuasi secara terprediksi sepanjang siklus 24 jam. Kekuatan maksimal dasar secara konsisten mencapai puncaknya pada sore menjelang malam hari (antara pukul 16.00 dan 20.00) dan mencapai titik terendahnya (nadir) pada pagi hari (antara pukul 06.00 dan 10.00) [6, 10]. Di berbagai modalitas pengujian—termasuk dinamometri isokinetik, kontraksi volunter isometrik, dan angkatan majemuk multi-sendi—output gaya maksimal pada sore/malam hari melampaui nilai di pagi hari [1, 12]. Sebagai contoh, gaya leg press dan ekstensi lutut isometrik bilateral maksimal terukur 4,4% dan 4,3% lebih tinggi pada sore/malam hari dibandingkan pagi hari [6], sementara gaya kontraksi volunter maksimal (maximal voluntary contraction / MVC) adductor pollicis terbukti 8,9% lebih besar pada pukul 18.00 dibandingkan pukul 07.00 [15].
Analisis cosinor terhadap ritme neuromuskular 24 jam menunjukkan bahwa gaya puncak (peak force), gaya rata-rata, dan torsi puncak mencapai akrofase sirkadiannya antara pukul 16.18 dan 18.34 pada latihan seperti back squat dan bench press [12]. Sebaliknya, metrik waktu-kecepatan—seperti waktu-menuju-torsi-puncak (time-to-peak-torque / tPT) dan waktu-menuju-kecepatan-puncak (time-to-peak-velocity / tPV)—menunjukkan akrofase pada pagi hari antara pukul 05.54 dan 08.03, mengindikasikan bahwa laju pembentukan gaya (rate of force development) neuromuskular lebih lambat pada jam-jam pagi [12, 19]. Torsi puncak konsentrik lutut dinamis dan indeks kelelahan torsi puncak juga menunjukkan fluktuasi diurnal yang signifikan, memuncak pada sore/malam hari [11].
Pemicu Fisiologis: Mekanisme Perifer dan Suhu Tubuh
Ritme diurnal pada kekuatan otot sangat terikat dengan ritme suhu inti tubuh dan suhu otot dalam [4, 10, 19]. Suhu rektal saat istirahat dan suhu otot dalam (diukur pada kedalaman 3 cm) memuncak pada sore menjelang malam hari (akrofase sekitar pukul 16.35–17.03, dengan amplitudo 0,23°C hingga 0,30°C) [12, 19]. Peningkatan suhu otot meningkatkan metabolisme energi, kinetika jembatan silang aktin-miosin, fluks kalsium intraseluler, kopling eksitasi-kontraksi, serta kelenturan (compliance) jaringan ikat [4, 10].
Bukti menunjukkan bahwa mekanisme otot perifer, alih-alih aktivasi sistem saraf pusat, menjadi pemicu perbedaan kekuatan diurnal dasar ini [10, 15]. Ketika aktivasi volunter diukur melalui interpolasi kedutan (twitch interpolation) selama MVC, dorongan motorik sentral (central motor drive) tidak berubah antara sesi pengujian pagi (pukul 07.00) dan sore/malam (pukul 18.00) [15]. Secara bersamaan, gaya kontraksi tetanik 100-Hz yang dipicu secara elektrik meningkat pada sore hari dengan derajat yang sama seperti gaya volunter, sementara aktivitas elektromiografi (EMG) per unit gaya menurun serta waktu kontraksi kedutan dan relaksasi-paruh memendek [15]. Namun, manipulasi pasif terhadap suhu inti dan otot mengungkapkan bahwa suhu semata tidak sepenuhnya menjelaskan variasi diurnal; menaikkan suhu inti pagi hari ke tingkat kontrol sore hari melalui perendaman air hangat atau pemanasan aktif tidak sepenuhnya menutup kesenjangan MVC antara pagi dan sore hari [15, 19]. Selain itu, hipertermia pasif moderat pada sore hari (menaikkan suhu inti hingga 38,5°C) memicu kegagalan aktivasi volunter dan mengganggu produksi torsi rata-rata, menunjukkan adanya kerentanan performa selama periode termal sirkadian puncak [19].
Variasi sirkadian juga terdapat pada poros hormonal, meskipun kontribusi mekanistiknya terhadap produksi gaya akut tergolong terbatas. Kendati kadar testosteron dan kortisol basal memuncak di pagi hari dan menurun sepanjang hari [4, 9], latihan beban di sore hari memicu respons peningkatan testosteron akibat latihan yang lebih tinggi serta rasio testosteron-terhadap-kortisol pascalatihan yang meningkat [7, 9]. Kendati demikian, bukti saat ini menunjukkan bahwa variasi hormonal akut tidak secara langsung menyebabkan fluktuasi neuromuskular diurnal [4].
Adaptasi Kronis: Kekuatan dan Hipertrofi
Terlepas dari variasi diurnal yang nyata pada performa akut sesi tunggal, adaptasi latihan jangka panjang mengikuti pola berbeda yang diatur oleh spesifisitas temporal dan toleransi volume [1].
Hipertrofi
Ketika volume, intensitas, dan frekuensi latihan disamakan, waktu latihan dalam sehari tidak memengaruhi hipertrofi otot jangka panjang [1, 3]. Tinjauan sistematis dan meta-analisis, termasuk sebuah umbrella review yang mencakup 14 meta-analisis, mengonfirmasi bahwa latihan di pagi hari versus sore/malam hari menghasilkan peningkatan luas penampang (cross-sectional area) dan ketebalan otot yang setara [1, 3]. Sinyal hipertrofi bekerja berdasarkan tegangan mekanis kumulatif dan beban volume selama berminggu-minggu serta berbulan-bulan, bukan berdasarkan waktu sirkadian dari masing-masing sesi latihan [3].
Adaptasi Kekuatan dan Spesifisitas Temporal
Adaptasi kekuatan jangka panjang menunjukkan spesifisitas waktu latihan (time-of-day specificity) [1, 7]. Latihan beban kronis yang secara konsisten dilakukan pada pagi hari meningkatkan kekuatan yang diuji pada pagi hari hingga mencapai tingkat yang sebanding dengan performa sore/malam hari, secara efektif meredam variasi kekuatan diurnal yang normal [1, 7]. Sebaliknya, latihan sore/malam hari yang kronis mempertahankan atau memperbesar variasi diurnal dasar, menghasilkan adaptasi kekuatan yang lebih unggul ketika pengujian dilakukan pada sore/malam hari [1]. Peningkatan kekuatan keseluruhan di semua jendela pengujian tetap sebanding antara kelompok yang berlatih pagi dan sore/malam hari, asalkan volume dan frekuensi disamakan [1].
Kronotipe Individu dan Fenotipe Atlet
Kronotipe secara signifikan memodulasi waktu kapasitas fisik puncak [6]. Dalam populasi orang dewasa umum, kronotipe terdistribusi ke dalam klasifikasi tipe intermediat (46% hingga 67%), tipe pagi (7% hingga 40%), dan tipe malam (6% hingga 27%) [6].
Performa atletik dapat bervariasi hingga 26% sepanjang hari tergantung pada fenotipe sirkadian individu [6]. Atlet tipe pagi mencapai kapasitas fisik puncak jauh lebih awal di siang hari (sekitar pukul 13.52), sedangkan atlet tipe malam mengalami akrofase performa yang jauh lebih larut (sekitar pukul 20.59) [6]. Variabilitas diurnal neuromuskular juga menunjukkan perbedaan spesifik jenis kelamin, di mana pria menunjukkan variabilitas gaya bergantung-waktu yang lebih besar selama kontraksi isometrik dibandingkan wanita [10].
Strategi Penjadwalan Praktis
- Targetkan Jendela Puncak untuk Output Maksimal: Saat menjadwalkan sesi kekuatan maksimal, daya ledak, atau kecepatan tinggi tanpa kendala waktu, jendela sore hari (pukul 16.00 hingga 19.00 untuk kronotipe intermediat; lebih awal untuk tipe pagi dan lebih larut untuk tipe malam) memanfaatkan puncak suhu inti, kinetika eksitasi-kontraksi yang optimal, dan rasio testosteron-terhadap-kortisol yang menguntungkan [6, 9, 10, 12].
- Sesuaikan Waktu Latihan dengan Waktu Kompetisi: Atlet yang bertanding pada waktu tertentu sebaiknya memprioritaskan latihan pada waktu tersebut. Latihan rutin di pagi hari meredam defisit performa pagi hari dan meningkatkan kekuatan pagi ke tingkat dasar sore hari melalui adaptasi temporal [1, 7].
- Perpanjang Pemanasan untuk Sesi Pagi: Jika latihan harus dilakukan pada pagi hari, memperpanjang durasi pemanasan aktif sekitar 20 menit dapat meningkatkan suhu inti dan suhu otot ke tingkat dasar sore hari, sehingga mengurangi sebagian penurunan gaya dan output daya ledak lompatan di pagi hari [4].
- Samakan Volume untuk Target Hipertrofi: Bagi atlet yang tujuan utamanya adalah hipertrofi otot, penentuan waktu sesi latihan dapat diatur sepenuhnya berdasarkan kepatuhan dan konsistensi jadwal, karena waktu diurnal tidak secara independen menentukan penambahan massa otot [1, 3].
Referensi
Sumber web
- The effects of time of day-specific resistance training on ...
- a systematic review and Bayesian network meta-analysis
- Resistance Training Variables for Optimization of Muscle ...
- Circadian Rhythms in Exercise Performance: Implications for ... - PMC
- The Influence of Chronotype on Strength Variables in Female ...
- Circadian Rhythm and Athletic Performance: The Ultimate Guide to ...
- Interactions of cortisol, testosterone, and resistance training
- Effects of very short rest periods on testosterone to cortisol ...
- Choosing the Optimal Daily Timing for Your Training
- Circadian Regulation for Optimizing Sport and Exercise ... - PMC
- Circadian Rhythm and Physical Fatigue Separately Influence ... - PMC
- Circadian variation in muscle force output in males using isokinetic ...
- Sex and limb comparisons of neuromuscular function in the ...
- Time of Day and Muscle Strength: A Circadian Output?
- Effect of time of day on force variation in a human muscle
- Twitch interpolation in human muscles: mechanisms and ...
- Neural Activation During Submaximal Contractions Seems ...
- Does the diurnal increase in central temperature interact ...
- Investigating effects of moderate hyperthermia at two ...
- (PDF) Diurnal Variation in Wingate Test Performances